Jumat, 23 Oktober 2015

Filippo Inzaghi, Raja Offside dan Raja Gol!


Filippo Inzaghi - SM/dok

DUA belas gol dalam delapan partai AC Milan di Kompetisi Liga Italia dicetak oleh Filippo Inzaghi. Gayanya seringkali menyebalkan dan dijuluki striker raja offside karena dalam setiap pertandingan selalu kena semprit offside berkali-kali. Mengapa sebagai seorang striker atau penyerang depan dia begitu subur? Apa kelebihannya?
Hampir semua media Italia mengacungkan jempol tinggi-tinggi kepada Filippo Inzaghi yang sering dijuluki Super Pippo. Tanpa dia mungkin AC Milan masih akan berkutat di kelas medioker.
Tanpa Super Pippo klub yang pernah malang-melintang pada tahun 1980-an dengan trio Belanda, yakni Ruud Gullit-Frank Rikard-Marco Van Basten, akan terus dijangkiti problem sulit membuat gol. Apalagi mesin gol mereka, Andriiy Shevchenko, masih cedera.
Namun, sejak awal musim ini semua kekhawatiran tersebut dihapus oleh Super Pippo. Gol demi gol dia lesakkan ke gawang lawan. Tipikal golnya terlihat demikian mudah dicetak.
Itu menimbulkan pertanyaan bagi banyak orang jika melihat teknik sepakbola yang dimiliki Pippo. Pemain langganan tim nasional Italia itu bukanlah striker yang berteknik lengkap.
Secara teknik, jika dibandingkan dengan Ruud Van Nilstelrooy, David Trezeguet atau rekan seklubnya, Andriiy Shevchenko, Pippo jauh berada di bawah nama-nama itu.
Selain tekniknya yang buruk, Pippo juga penerima bola yang jelek. Dia kurang bisa menggiring bola, melewati bek lawan, dan umpannya pun jauh dari sempurna. Dia tidak kuat seperti Christian Vieri.
Bakatnya tidaklah sehebat Raul Gonzalez dan kecepatannya kalah jauh dibandingkan dengan Sheva, panggilan Andriiy Shevchenko. Tendangannya tidak sekeras dan seterarah Trezeguet.
Membalik Teori
Semua teori itu seperti dibalik oleh Pippo. Khusus di Liga Champions plus kualifikasi melawan Slovan Liberec, dia sudah menjaringkan sembilan gol (dua ke Slovan Liberec, dua ke Lens, tiga ke Deportivo, dua ke Bayern Munich).
Berdasarkan data dari Opta Index, Pippo menjaringkan 63% gol dari total kesempatan yang dia dapatkan. Pippo pun menduduki urutan teratas soal ini, mengalahkan striker top seperti Raul, Ruud Van Nilstelrooy, atau Roy Makaay.
Lalu, apa yang membuat Pippo sedemikian tajam? Beberapa pengamat menguraikan kelebihan-kelebihan yang dia miliki.
Pertama, dia dinilai sebagai orang yang rajin membuka ruang. Hal itu sudah diakui oleh Alessandro Nesta saat masih memperkuat Lazio.
Nesta menganggap Pippo sebagai striker yang paling sulit dikawal karena kemampuannya mencari ruang kosong di kotak penalti lawan. Pippo selalu berlari dan berkelit di balik jebakan-jebakan pemain belakang lawan.
Kedua, shoot on target-nya cukup tinggi. Di Liga Champions, Pippo teratas dalam soal itu dengan enam tembakan, mengalahkan Pablo Aimar, Pablo Aimar, Ruud van Nistelrooy, Juan Sebastian Veron, Azar Karadas, Roy Makaay, Thierry Henry, Sonny Anderson yang masing-masing membukukan lima shoot on target. Angka Pippo bertambah menjadi sembilan usai pertandingan melawan Bayern Muenchen.
Ketiga, naluri membunuh atau killer instinct-nya sangat tinggi. Daya ciumnya terhadap gol cukup tajam. Dari dua pertandingan lawan Lens dan Deportivo La Coruna, goal to shoot ratio-nya cukup tinggi, yaitu 67% dan hanya kalah dari Yakubo Aiyegbeni (Maccabi Haifa).
Intinya, Pippo butuh makin sedikit peluang untuk bisa membuat gol. Hal itu masih ditambah kepala dan kakinya yang lumayan maut.
Keempat, dia sangat jago lolos dari jebakan offside. Ada data statistik yang menarik mengenai Pippo. Dia adalah raja offside.
Dari data sebelum Bayern vs Milan dihitung, Pippo offside tujuh kali dan ada di peringkat ketiga di bawah Mateja Kezman serta Thierry Henry (8 kali).
Ditambah partai lawan Bayern, Pippo menjadi terbanyak offside, yaitu 10 kali. Tapi justru itulah kelebihannya. Dia adalah tipikal pemain yang mudah lolos dari jebakan offside untuk kemudian solo run mengalahkan penjaga gawang lawan.
Kelima, Pippo kini disuplai oleh playmaker andal. Rui Costa, Clarence Seedorf, dan Rivaldo adalah beberapa nama yang rajin memberi umpan atau assist.
Alasan-alasan itulah yang dianggap berperan dan membuat Pippo kini makin panas dalam urusan mencetak gol.
Sampai-sampai ada celetukan mengenai Pippo. He lives for the goal and the six yard box is his home. Dia hidup untuk gol dan petak penalti adalah rumahnya!

1 komentar: