Yahoo, Kamis, 19 Januari 2012 - Oleh Yogi Cerdito
Seiring
dengan popularitas komedi tunggal (stand-up comedy) yang semakin ramai
dibicarakan, nama Asep Suaji pun ikut melejit. Wajah komik — sebutan
untuk para pelaku komedi ini — memang lucu dan mendukung materi lelucon
yang dia lontarkan.
Pada Senin (16/1) sore, Asep datang bersama
Luqman Baehaqi ke kantor Yahoo! Indonesia. Selain melakukan stand-up
comedy, Yahoo! OMG! juga sempat berbincang dengan Asep. Sebenarnya apa
yang membedakan komedi tunggal dengan komedi jenis lain?
Latar belakang kamu apa sih?
Kerjaan
aku terakhir di teknologi informasi. Sekitar enam tahun di sana.
Sekitar bulan April aku sudah berhenti. Aku ingin fokus di komedi
tunggal. Bukan karena merasa jago, tapi justru ingin mendalami.
Bagaimana awalnya bisa berkecimpung di komedi tunggal?
Pertama
karena hobi. Sekitar 2008 aku nonton stand-up comedy di YouTube,
kemudian suka dan menjadi penikmatnya. Aku menemukan kafe yang ada “open
mic” [sesi bebas tampil]. Sekitar bulan Juli, ada audisi Kompas, aku
ikut, kemudian lolos.
Kenapa memilih komedi tunggal?
Ada
sesuatu yang membuat aku tertarik. Waktu nonton di YouTube, materi
mereka bagus, berbobot, dan membuat kita semua sadar fenomena sekitar.
Di Amerika, yang didengarkan orang hanya dua. Yang pertama pidato bagus
dari presiden, dan yang kedua komedi tunggal. Di sana, penontonnya bisa
satu stadion.
Ada tokoh komedi tunggal favorit kamu?
Aku
suka Chris Rock. Materinya berisi, sangat lucu. Dia juga suka
membawakan materi tentang kondisi sosial Amerika, seperti saat pemilihan
Obama. Itu lucu sekali.
Biasanya kamu punya ide materi dari mana?
Terus
terang, kalau materi aku tentang sosial belum banyak. Aku biasanya
tentang kehidupan pribadi saja. Sebenarnya aku juga ingin seperti Chris
Rock, tapi ya masih belajar.
Teknik belajar komedi ini seperti apa sih?
Jadi
kami berkumpul, berbagi pengalaman. “Lo sudah pernah tonton si ini
belum? Bagus tuh.” Kalau di Canda Comedy CafĂ© juga begitu. Kita disuruh
tampil, terus dinilai.
Ada standar penilaian untuk seorang comic?
Ada
yang namanya LPM [laugh per minute, jumlah tawa per menit]. Kalau
LPM-nya tinggi, itu ukuran. Canda kamu juga harus diingat orang. “O iya
ya, tadi benar juga ya..” Seperti itulah.
Sempat minder?
Wah
dulu aku parah banget saat pertama kali. Banyak yang nggak peduli. Tapi
karena suka, tapi ya aku terus saja. Sekarang sih sudah tidak terlalu
minder, tapi ya terus belajar. Masih dangkal ilmunya.
Kira-kira bagaimana masa depan komedi tunggal? Atau jangan-jangan hanya jadi tren saja?
Cerah
sih. Kami sudah meletakkan batu pertama untuk jenis komedi yang
berbeda. Semoga semakin lama semakin banyak pelaku komedi tunggal yang
lain. Saat ini ada sekitar 45 komunitas komik di Indonesia.
Apa sih ciri khas komedi tunggal?
Jenis
komedi ini sangat orisinal. Jadi seorang komik hanya boleh membawakan
materi hasil karyanya. Kalau dia sampai membawakan materi dari komik
lainnya, itu sama saja seperti plagiarisme. Itu sangat tidak baik.
Misalkan
Robbin Williams membawakan materi komedi tunggal aku, dia akan
dipandang tidak baik oleh komik yang lain. Materinya itu eksklusif.
Setiap komik harus berbeda materi.
Ada yang namanya joke telling.
Itu kamu bisa ambil materi dari Internet, kemudian diceritakan ulang ke
penonton. Komedi tunggal tidak seperti itu. Materinya harus berdasarkan
sudut pandang pribadi dan pengalaman pribadi. Bisa dikategorikan
sebagai kebebasan berpendapat sih.
Kalau ada teman kamu cerita ke kamu, terus cerita itu jadi materi pertunjukan, bisa nggak?
Oh bisa. Tapi ditambahkan, “Gue punya teman nih. Dia … bla bla bla..”, gitu.
Kamu suka lupa materi ya?
Pasti!
Aku tuh dikenal sebagai komik yang suka nge-blank. Tapi itu jadi
semacam ciri khas aku. Kata orang-orang sih aku lucu kalau aku lucu.
Ada yang pernah bilang kamu mirip Chris John nggak?
Banyak sekali! Tapi sebenarnya aku nggak mirip Chris John. Justru dia yang mirip aku.
Kalau diajak main film?
Mau banget. Aku itu pecinta film, kalau disuruh ikut main, tidak akan menolak.
Susah tidak jadi seorang komik?
Tidak
sih. Ini kan bisa dipelajari, banyak bukunya. Menurut aku setiap orang
bisa kok. Hanya tinggal menentukan set up [jalan cerita] dan punch
[kata-kata yang bikin orang tertawa]. Tapi ya kebanyakan orang suka malu
di depan umum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar